9:22 AM
short trip, long story
20 Feb 2012
Papan dari sterofoam di dinding kamar saya, adalah awal semua cerita dimulai. Atas dasar keisengan, saya menulis “going to singapore” sebagai salah satu wish di tahun ini. Berawal dari percakapan random, saya mengajak teman sekamar saya, Wanda untuk pergi ke luar negeri saat liburan semester ini. Awalnya kami mengajak banyak lelaki lain untuk menemani, namun sayang mereka gugur satu per satu. Dan, nekatnya, kami tetap tidak mengurungkan niat untuk ber-(apakah bisa disebut backpacking?) ke 2 negara sekaligus.
Boarding pukul 08.20 ke changi, dan kami baru saja sampai di bandara pukul 07.40 menjadi pertanda, bahwa perjalanan kali ini tidak akan biasa saja. kami hampir tidak bisa check in dan terlambat naik pesawat karena antrian imigrasi di Soetta yang sangat panjang. Namun, Tuhan masih sayang dengan dua gadis ciptaannya yang nekat ini.
Pukul 11.30 kami tiba di bandara Changi, sesampainya di sana, saya menuju ke imigrasi desk dan bertemu dengan petugas wanita berdarah india yang galak minta ampun. Dan pertemuan saya dengan ibu-ibu petugas galak di imigration board changi inilah, yang menjadi awal malapetaka di hari kedua nanti.
Kemudian, kami meneruskan perjalanan dengan MRT menuju Bugis. Di sana kami menuju ke sebuah hostel yang direkomendasikan oleh teman-teman-kami-yang-backpacker-beneran, untuk menginap di hostel yang murah namun bersih dengan konsep go green yang keren. Namanya Tree in Lodge. Hanya dengan 29 dollar per malam, kami sudah bisa tidur nyaman dan tidak ngemper di jalanan Singapore.

Setelah, beberapa menit kami beristirahat makan dan ganti baju, kami menuju ke Marlion, Little india dan berjalan jalan di sekeliling daerah Bugis. Seharian dihabiskan dengan jalan, naik MRT dari satu stasiun ke stasiun lain, foto, makan dan shopping. Pukul 9 malam waktu setempat, kami sudah kembali ke hostel dan beristirahat.
Hari ini menyenangkan. Akhirnya bisa melihat tata kota yang rapih dan anti macet. Terkagum-kagum pastinya, melihat ketertiban yang luar biasa ini.
21 Feb 2012
Hari kedua, kami sibuk dengan rencana kami menuju ke Malaysia malam itu juga. Untungnya kami (sok) akrab dengan Tan, penjaga hostel Tree in Lodge dan sepertinya Tan tau banyak mengenai Malaysia dan tempat-tempat yang patut dikunjungi. Selama di Singapore, Tan menjadi tour guide gratisan kami, he was really helpful.
Siangnya kami menuju USS (Universal Studio Singapore) terlebih dahulu, kemudian melanjutkan trip dengan shopping barang branded yang murah di daerah Orchard, dan oleh-oleh di daerah China Town.
Pukul 4, kami kembali ke hostel, mengambil barang dan melanjutkan perjalanan menuju johor baru dengan menggunakan bus yang ada di daerah Queen Street, dekat dengan penginapan kami. Harga bus nya murah, hanya 2dollar40sen, sekitar 15 ribuan. Perjalanan 1 jam menuju johor baru. DAN DISINILAH MALAPETAKA TERJADI.
Perjalanan antar negara memang tidak sesimple yang dibayangkan, karena kami harus turun berkali kali untuk urusan imigrasi. Ketika kami sampai di daerah perbatasan, kami turun di sebuah gedung besar, dimana ribuan orang dari ratusan bis yang akan menuju Malaysia berkumpul. Wanda turun duluan, dan saya tertinggal di belakang karena harus membawa barang yang lebih banyak hasil dari belanja tadi siang.
Selisih puluhan detik saja, saya sudah tertinggal jauh dengan Wanda. Saya mengantri dan menanyakan apa saja yang dibutuhkan saat di desk nanti. Dan pria dari Malaysia yang berdiri di belakang saya hanya menjawab “saye tak sure, tak taulah, hanya bawa paspor”. Baiklah berarti hanya paspor, dan saya aman.
Sesampainya di depan desk, petugas wanita dari Malaysia itu menanyakan kertas putih-yang-saya-tidak-tau-apa. Saya hanya bilang “all the things i’ve got from Changi were there inside my passport”. Tapi si petugas itu hanya menggeleng dan bilang “No, there’s one another”
Saya panik, “YANG MANAAA? SAYA TAK TAU”
Dan tiba tiba Bapak Polisi China datang ke saya “IKUT SAYA KE LANTAI 5. Ikut ke kantor dulu”. Saya digiring ke kantor di lantai 5 bersamaan dengan orang orang yang paspornya bermasalah.
Saya melihat sekeliling, mencari wanda. dan BLANK! Wanda hilang dari penglihatan, HP lowbat dan MATI. Mata saya minus, dan kacamata saya entah dimana. Sepersekian detik kemudian saya menangis karena benar benar merasa tidak tau harus berbuat apa. Perasaan yang sama ketika saya berumur 5 tahun dan hilang di Mall, tidak melihat orang tua saya.
Sempat terpikir “Ya Allah, saya itukan orangnya teledor maksimal, mata minus hobi ngilangin kacamata, cengeng, ga hafalan jalan, ga bisa bedain kanan kiri, kok ya nekat ke luar negeri cuma berdua doang”
Di sela kepanikan saya akan takut dideportasi, saya sempet-sempetnya bbm Yukti (pacar saya) di menit menit sebelum hp saya mati. saya bilang “Yukti, i was so naive finding any happiness far faaaar away until going abroad, while actually my happiness is very near. it is when i’m with you and i feel safe, nothing can compare.” Yukti bingung, kenapa pacarnya tiba-tiba bbm demikian.
Tuhan, demi apa saya masih sempet ngegombal di saat seperti itu?
(lanjut ke cerita)
saya diwawancara sekitar 5 menit. Dengan nada sedikit membentak, petugas itu bertanya tentang kertas-putih-sialan-yang-saya-ga-tau-wujudnya. Kemudian saya harus menunggu proses entah apa namanya, agar saya bisa keluar gedung dan kembali naik bus menuju Malaysia. saya tidak tau wanda dimana. kalaupun dia pergi dan sudah berangkat duluan, saya sudah ikhlas.
setengah jam kemudian, petugas itu menyerahkan paspor saya. Dan dengan pikiran setengah kosong, saya berjalan dan secara tidak sadar MENJATUHKAN PASPOR ITU!
Saya menyadari hilangnya paspor saya ketika sudah di mulut pintu bis, saya mencari paspor saya, dan ternyata paspor saya TIDAK ADA di dalam tas. Sudah tidak tau lagi rasanya. kenapa bisa seteledor ini. Kalau kertas putih sialan tadi hilang, saya masih bisa pergi, tapi kalau paspor hilang. tunggu 1x24 jam saja, saya SUDAH PASTI AKAN DIDEPORTASI.
Tuhan, kenapa gini banget sih….?
10 menit kemudian, mic sentral mengumumkan bahwa ada paspor Indonesia ditemukan. dan dengan muka penuh harapan saya lari menuju lantai 5 lagi, untuk mengambil paspor itu.
Dan sebelum petugas yang sama menyerahkan paspor saya, dia bertanya “what’s wrong with yoouu?” sambil dalam hati mikir kenapa saya teledor banget.
saya hanya tersenyum dan berkata “everything’s going wrong today, Sir”
(to be continued)
-
mikarania said:
ngiriiii deh shiin
-
mikarania liked this
-
putrishinta posted this
